Maraknya perampokan yang terjadi menjelang lebaran dengan senjata api tak pelak lagi membuat masyarakat menjadi takut terutama mereka yang mempunyai usaha toko emas/barang berharga. selain itu perampokan kepada nasabah bank atau rumah mewah juga kerap terjadi. Pelaku yang tertangkap ternyata banyak ‘orang lama’, residivis dan hanya beberapa orang baru (yang masih coba-coba/dalam masa training). Yang menjadi pertanyaan saya adalah, kenapa banyak residivis yang amsih melakukan pekerjaan lama mereka. Dalam benak saya terlintas bahwa:

1. Merampok sudah menjadi ‘hobi’ (Dapat uang banyak dengan cara mudah namun kadang berbahaya)

2. Malas untuk berusaha mencari rezeki halal

3. Hati sudah mati

4. Penjara tidak menimbulkan efek jera.

5. Banyak masyarakat yang belum bisa menerima bekas penghuni penjara dalam lingkungannya meskipun mereka sudah bertaubat.

Selain perampok, kasus menyangkut narkoba ternyata juga ‘ itu-itu’ juga. Agaknya hukuman dalam penjara tidak menimbulkan efek jera dan mengajak orang hidup di jalan yang benar. Apakah dalam penjara memang kurang adanya pelajaran moral/perbaikan akhlak ataukah memang hati mereka yang telah mati sehingga untuk menerima pelajaran baik tidak ada minat sama sekali/atau sudah tidak dapat masuk  (jawa:dhedhel).

Bila kita menengok lagi ke sejarah masa lalu, mengenai hukum syariah agaknya ada beberapa yang perlu dikaji ulang. Misalnya, orang yang mencuri akan dipotong tangannya atau  jarinya tergantung ringan atau berat kesalahan yang dilakukan. Toh tanpa tangan, manusia akan tetap hidup dan tetap bisa berusaha. Dengan penerapan hukuman ini, kemungkinan ada kecenderungan mereka yang terbiasa “maling” (apapun aktivitas maling yang dilakukan : mencuri, mencopet, merampok, korupsi, menjambret) akan berpikir 2 kali untuk melakukan kesalahan yang sama karena mereka akan cacat seumur hidup.