Pemerintah mengalokasikan anggaran belanja pegawai mencapai Rp 161,7 triliun dalam RAPBN 2010 mendatang. Angka ini naik Rp 28 triliun atau 21 persen dari perkiraan realisasinya dalam tahun 2009. Kenaikan anggaran ini ditujukan untuk memperbaiki kinerja birokrasi dan peningkatan kualitas pelayanan publik. Selain itu, anggaran juga dialokasikan untuk kenaikan gaji PNS, prajurit TNI/Polri, dan pensiunan sebesar rata-rata 5 persen (Kompas, 3 Agustus 2009).

Apa reaksi masyarakat? Tentu saja banyak tanggapan negatif. Karena selama ini PNS dianggap sebagai penghambur uang negara sebagai imbas dari buruknya kinerja namun gaji selalu dinaikkan setiap tahunnya. Dan pemerintah terkesan menganak-emaskan PNS.

Kinerja buruk PNS ini karena adanya segelintir atau malah banyak PNS yangs sering mangkir dari jam kantor. Lihatlah betapa Ibu-ibu tanpa rasa berdosa berbelanja di pasar dengan seragamnya, atau leluasa antar jemput anak sekolah, izin menjenguk sodara sakit sampai beberapa hari, berkeliaran di jalan tidak jelas atau berada di tempat-tempat maksiat dengan melakukan hal-hal maksiat. Pemberitaan negatif ini selalu muncul di media kita, hampir setiap hari. Belum lagi kasus korupsi atau penyalahgunaan wewenang. Tak terhitung jumlahnya yang kita baca atau dengar setiap hari.

Tapi bagaimanakah dengan mereka yang harus sampai di kantor tepat jam 7 bahkan kadang harus tiba sebelum apel pagi untuk menyelesaikan tugas atau melakukan pekerjaan yang diterima malam dan harus diselesaikan pagi hari. Atau mereka yang harus pulang malam padahal tak ada uang lembur sama sekali bagi PNS. Tentu semua hanya sia-sia belaka. Mereka sudah menjadi bagian dari PNS yang suka mangkir.

Bagaimana pula dengan kesejahteraan PNS. PNS juga butuh makan, pakaian dan tempat tinggal. Seorang PNS yang masuk dalam golongan IIIa (S1) pertama kali masuk tahun 2006 mendapatkan penghasilan 950 ribu rupiah. Uang kost saat itu adalah 150 ribu (satu kamar ber-2), makan sehari minimal 15 ribu (450 ribu per bulan), transport 200ribu. Bisa dibayangkan kahidupan PNS setingkat sarjana saat dia harus bekerja dan merantau. Tapi, alhamdulillah semua dapat dilalui dengan penuh ikhlas meski kadang miris dengan pemberitaan dan stigma publik tentang PNS.

Tapi dibalik semua itu, pekerjaan menjadi PNS masih menjadi idola sebagian besar masyarakat kita. Lihatlah betapa banyak lulusan di berbagai tingkatan pendidikan berlomba untuk mendapatkan posisi sebagai salah satu bagian dari sistem birokrasi negeri ini. Bahkan banyak orang yang rela mengeluarkan kocek sangat besar demi dapat NIP di bawah namanya. Karena PNS tetap dianggap sebagai pekerjaan yang menjanjikan dan masa depan telah terjamin karena adanya uang pensiun. Ada lagi enaknya menjadi PNS, SK-nya dapat dijadikan jaminan kredit (hehehe…ini pengalaman pribadi).

Apapun anggapan masyarakat tentang PNS, saya tidak akan menyangkal karena di negara ini orang bebas beropini dan bahkan opini ini kadang menjadi sebuah teori baku yang sulit untuk disanggah. Namun saya tetap akan berusaha untuk membuat opini publik berubah menjadi “Sebagian PNS ternyata mempunyai kinerja yang tidak buruk”. Saya  akan menjadi bagian dari opini baru tersebut.