Sudah 1 tahun ku mengenalmu. Kau juga telah mengenalku. Suka dukamu banyak kau ceritakan padaku. Keluargamu, pekerjaanmu sampai jadwal keseharianmu. Sampai sekarang. Masukanku, komentarku dan semua keluh kesahku kamu respon dengan baik. Seperti sahabat pada umumnya. Tapi semua hanya lewat dunia maya.

Saat kau ingin menjumpaiku karna kamu harus pulang kampung dan melewati Semarang, kamu meminta untuk bertemu denganku. Kuturuti itu. Kita bertemu di Simpang Lima, tempat yang kuanggap mewakili Kota Semarang. Agar semua akan berkesan antara engkau dan aku.

Aku datang tak sendiri, dirimu pun begitu. Tapi ada yang ganjil saat ku mengucap salam padamu. Kaku menjawab salamku. Seperti takut dan malu engkau berbincang denganku. Satu jam terasa terasing ku bercakap denganmu. Hanya suasana wagu yang kurasakan.

Kenapa lewat fesbuk, blog, tagged, ym, sms, telp…(semua yang memungkinkan kita berinteraksi tanpa langsung menatapku) kamu begitu ramah, terbuka dan seakan sangat mengenalku. Apa kau takut sama istrimu? Kan kamu sendiri yang bilang kalau istrimu itu tak pernah berpikiran negatif sama suaminya dan memang sperti itulah hubungan kita, teman. Baguslah, pikirku. Dia bukan tipe perempuan posesif dan pencemburu.

Belum sampai sehari kau mengabariku lewat ym dan minta maaf karna kemarin terlalu lelah jadi tak ada kehangatan atas perjumpaan. Tak bisa kuterima alasanmu, tapi tetep ku’iya’kan. Alasan wagu sebenarnya.

Menyesal ku bertemu denganmu. Simpang Lima mungkin bukan tempat yang tepat untuk kita bertemu. Tak usah kau mengabariku kalo pulang ke Surabaya. Lebih baik kita tak usah berjumpa lagi, karna lewat dunia nyata seakan ku kehilanganmu… sobatku