Pangan merupakan kebutuhan pokok terpenting, yang secara langsung terkait dengan kondisi kesehatan, kecerdasan dan produktivitas sumberdaya manusia. Di samping itu pemenuhan kebutuhan pangan merupakan fondasi untuk pembentukan kualitas manusia.

Terjadinya kasus rawan pangan dan gizi buruk di beberapa kabupaten, menunjukkan bahwa masalah ketahanan pangan bukan masalah yang sederhana dan dapat diatasi sesaat saja, melainkan merupakan masalah yang cukup kompleks karena tidak hanya memperhatikan situasi ketersediaan pangan melainkan juga harus memperhatikan hal-hal yang terkait dengan fasilitasi peningkatan akses terhadap pangan dan asupan gizi baik ditingkat rumah tangga maupun bagi anggota rumah tangga itu sendiri.

Dalam upaya penanganan kerawanan pangan, diupayakan menyusun peta kerawanan pangan/Food Insecurity Atlas (FIA) yaitu suatu alat untuk mengetahui daerah rawan pangan dengan permasalahan yang melatarbelakangi kejadian rawan pangan tersebut untuk dijadikan sebagai bahan kebijakan bagi penanggulangan kerawanan pangan.

Analisis yang dilakukan pada pemetaan FIA tidak mengikutsertakan daerah perkotaan, tetapi hanya dilakukan pada 29 kabupaten saja, karena kerawanan pangan di daerah perkotaan harus dianalisis secara terpisah sebab mempunyai karakteristik tersendiri.

Penyusunan peta FIA dilakukan pada daerah rawan pangan kronis dan rawan pangan transien. Rawan Pangan Kronis adalah keadaan rawan pangan yang berkelanjutan yang terjadi sepanjang waktu yang dapat disebabkan karena keterbatasan SDA dan keterbatasan kemampuan SDM sehingga menyebabkan kondisi masyarakat menjadi miskin. Rawan Pangan Transien adalah keadaan kerawanan pangan yang disebabkan oleh kondisi yang tidak terduga antara lain berbagai musibah, bencana alam, kerusuhan, musim yang menyimpang dan keadaan lain yang bersifat mendadak.

Indikator kerawanan pangan kronis tercakup dalam 3 aspek/dimensi rawan pangan yaitu: Ketersediaan pangan, Akses pangan dan Penyerapan pangan. Sedangkan indikator untuk kerawanan pangan transien, menggambarkan aspek dari pengaruh lingkungan alam dan iklim, meliputi indikator : (1) Persentase daerah tak berhutan; (2) Persentase Puso, (3) Daerah rawan longsor dan banjir ; (4) Fluktuasi/penyimpangan curah hujan.

1. Ketersediaan Pangan

Ketersediaan pangan adalah satu hal yang penting, meskipun faktor ini saja tidak cukup untuk menggambarkan ketahanan pangan di suatu wilayah. Ketersediaan pangan tidak hanya diperoleh dari produksi pangan serealia di suatu wilayah, tetapi juga berasal dari kondisi netto ekspor dan impor yang diperoleh melalui berbagai jalur. Meskipun demikian, pada tingkat mikro, misalnya tingkat kabupaten dan tingkat yang lebih rendah, sangat sukar sekali untuk mengetahui arus pemasukan dan pengeluaran pangan serealia tersebut. Oleh sebab itu, sebagai indikator Ketersediaan Pangan pada Atlas ini, kita menggunakan proporsi konsumsi normatif terhadap ketersediaan netto padi, jagung, dan ubi kayu yang layak dikonsumsi manusia. Perlu dijelaskan bahwa dalam analisis ini dipilih penggunaan konsumsi normatif daripada penggunaan konsumsi aktual sehari-hari; karena konsumsi aktual (konsumsi sehari-hari) dipengaruhi oleh banyak hal di luar aspek ketersediaan pangan itu sendiri (misalnya: daya beli, pasar dan infrastruktur jalan, kemampuan penyerapan serealia, kebiasaan/budaya, dll).

2. Akses Terhadap pangan

Dimensi ke dua dari Ketahanan Pangan adalah Akses terhadap Pangan dan Pendapatan. Indikator-indikator yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah:

a. Persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan

Indikator ini menunjukkan ketidak-mampuan untuk mendapatkan cukup pangan, karena rendahnya kemampuan daya beli. Atau hal ini mencerminkan ketidak-mampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti, makanan, pakaian, perumahan, pendidikan, dll

BPS melalui survei tiga-tahunannya yang mencakup data konsumsi pangan dan non-pangan dan berdasarkan konsumsi normatif 2,100 kkal per hari per kapita, dihitung estimasi persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinanan

b. Persentase rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas listrik

Tersedianya fasilitas listrik di suatu wilayah akan membuka peluang yang lebih besar untuk akses pekerjaan. Ini juga merupakan indikasi kesejahteraan suatu wilayah atau rumah tangga.

c. Panjang jalan per kilometer persegi

Akses jalan yang lebih baik akan mendukung perbaikan kondisi ekonomi di suatu daerah, melalui peningkatan akses infrastruktur dasar seperti sekolah, rumah sakit, pasar, dll. Indikator panjang jalan per kilometer persegi digunakan pada Atlas ini sebagai indikator untuk infrastruktur. Untuk penghitungan indeks, nilai semua indikator harus diurutkan dengan arah yang sama (unidirectional), yaitu: nilai yang semakin tinggi, menunjukkan tingkat kerawanan pangan yang semakin tinggi pula. Tetapi untuk indikator panjang jalan, karena semakin panjang jalan per kilometer persegi menunjukkan situasi yang lebih baik, maka dalam penghitungan indeks panjang jalan, kita mengambil nilai yang sebaliknya atau nilai yang lebih rendah untuk menunjukkan kondisi yang lebih buruk.

3. Penyerapan Pangan

Dimensi ketiga dari kerawanan pangan tercermin melalui indikator-indikator gizi dan kesehatan. Meskipun suatu daerah atau seseorang tahan pangan yang ditinjau dari ketersediaan pangan dan akses pangan, kondisi kerawanan secara keseluruhan masih akan bergantung panda faktor-faktor seperti akses infrastruktur kesehatan dan fasilitas dasar, seperti akses ke air minum yang aman, sanitasi dan sebagainya, dan dampak dari pemanfaatan dan penyerapan pangan, yang ditunjukkan dari status gizi individu terutama pada anak-anak dan perempuan. Kesehatan dan keadaan gizi juga akan bergantung pada jenis pangan yang dikonsumsi dan diserap oleh tubu.

Penyerapan pangan yang tepat dalam tubuh hanya memungkinkan, bila pangan yang dikonsumsi mengandung semua komponen pokok yang diperlukan untuk pertumbuhan. Susunan bahan pangan yang seimbang, pengetahuan tentanggizi dan pola makan yang baik adalah penting. Penyerapan pangan juga bergantung pada keadaan kesehatan individu, pasokan air yang aman, sanitasi lingkungan dan hygiene. Hasil dari penyerapan pangan yang tepat adalah kehidupan individu yang panjang dan produktif di dalam masyarakat.

Kemampuan baca tulis ibu dan pengasuh akan mempengaruhi status gizi anak dan oleh sebab itu merupakan suatu indikator yang sangat penting dari manfaat pangan. Study di dunia menunjukkan bahwa pendidikan dan kesadaran yang paling dasar dari ibu mempengaruhi secara signifikan proporsi gizi anak di negara berkembang.

Untuk memetakan tingkat kerawanan pangan berdasarkan indeks komposit pemanfaatan/penyerapan pangan (Indeks Food Utilization/IFU), telah ditetapkan indikator yang dibagi menjadi 3 kelompok :

a. Akses ke infrastruktur kesehatan

Seseorang memerlukan pangan dalam kualitas dan kuantitas yang tepat, sanitasi dan higiene yang baik, infrastruktur kesehatan dasar yang baik seperti air bersih, pelayanan kesehatan, pengetahuan dasar kesehatan gizi untuk mencapai hidup yang sehat. Tanpa akses ke infrastruktur kesehatan dasar yang optimal, maka penyerapan pangan ke dalam tubuh akan terganggu, sehingga mengakibatkan status gizi dan kesehatan yang rendah. Indikator-indikator yang termasuk di dalamnya adalah:

1. Persentase rumah tangga yang tidak akses ke air bersih

Akses ke air bersih adalah kebutuhan utama bagi masyarakat agar dapat hidup sehat untuk kegiatan sehari-hari. Kesulitan dlam mengakses air bersih akan mengakibatkan berbgai macam penyakit yang akhirnya dapat menyebabkan kematian.

2. Persentase rumah tangga yang tinggal > 5 km dari Puskesmas.

Kepadatan penduduk suatu daerah dan jarak ke tempat pelayanan kesehatan merupakan ukuran yang penting dan dapat mempengaruhi pemanfaatan/penyerapan pangan. Rendahnya jumlah fasilitas keehatan berarti akses pelayanan terhadap masyarakat kurang baik karena akan semakin jauh jarak sehingga kan menyulitkan msyarakat untuk memanfaatkan fasilitas ini.

b. Keragaan gizi dan kesehatan

Kita mengetahui bahwa gizi dan kesehatan berkorelasi positif dalam lamanya kehidupan manusia. Semakin rendah umur harapan hidup penduduk, akan mencerminkan semakin tinggi tingkat kerawanan pangan suatu daerah, demikian pula sebaliknya.Kelompok ke dua ini terdiri dari 3 indikator, yaitu:

1. Persentase balita dengan berat badan di bawah standar

Status gizi anak (biasanya usia di bawah 5 tahun) merupakan salah satu indikator yang sangat baik digunakan pada kelompok Penyerapan/Absorpsi Pangan. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi seorang anak adalah situasi ketahanan pangan rumah tangga, status gizi dan kesehatan ibu, pendidikan ibu, pola asuh anak, akses terhadap air bersih, akses terhadap pelayanan kesehatan yang tepat waktu.

2. Angka kematian bayi

Angka Kematian Bayi didefinisikan sebagai jumlah kematian bayi (kematian pada tahun pertama kehidupan) terhadap jumlah bayi yang lahir per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Kematian bayi disebabkan oleh pola asuh anak yang tidak layak, malnutrisi, tidak memadainya fasilitas kesehatan dan angka morbiditas yang tinggi.

3. Umur harapan hidup

Angka harapan hidup dapat didefinisikan sebagai “lama hidup (tahun) yang diharapkan dari bayi yang baru lahir di suatu daerah atau populasi tertentu” Jika angka kematian pada umur tertentu (age-specific mortality rate) pada saat itu diketahui untuk satu populasi atau wilayah tertentu”. Keuntungan memakai angka harapan hidup sebagai indikator untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat adalah: pengukuran angka kematian pada semua kelompok umur tidak memerlukan standar populasi. Karena itu hasil yang diperoleh tidak tergantung pada standar populasi yang digunakan. Ini juga memungkinkan untuk membandingkan angka kematian antar wilayah. Sebagai tambahan, pengukuran angka kematian ini juga lebih mudah dipahami oleh populasi secara umum.

c. Persentase wanita buta huruf

Pemenuhan asupan gizi untuk anak balita sangat tergantung dari komposisi makanan yang diberikan oleh si ibu kepada anaknya, sering terjadi kekurangan gizi pada anak balita karena kekurangtahuan si ibu tentang gizi berimbang meskipun mereka termasuk keluarga yang mampu. Seperti halnya kasus akses terhadap jalan dan listrik daerah-daerah dengan infrastruktur yang tidak memadai akan beakibat serius pada status kesehatan dan gizi. Yang penting adalah investasi pada infrastruktur kesehatan, air dan sanitasi menjadi prioritas utama untuk Kabupaten-Kabupaten yang memiliki akses sangat rendah. Pelayanan kesehatan yang berpindah-pindah akan sangat bermanfaat di daerah pedesaan. Para pelayanan kesehatan tradisional dapat dilengkapi dengan pelatihan yang diperlukan dan perlengkapan

Untuk hidup yang sehat, seseorang memerlukan pangan dalam kuantitas dan kwalitas yang tepat, sanitasi dan higiene yang baik, infrastruktur kesehatan dasar yang baik seperti air bersih, pelayanan kesehatan, pengetahuan dasar kesehatan dan gizi dan sebagainya. Tanpa akses ke infrasruktur ke kesehatan dasar, maka penyerapan pangan ke dalam tubuh akan terganggu, sehingga mengakibatkan status gizi dan kesehatan yang lebih rendah. Jadi sangat penting untuk meninjau infrastruktur kesehatan utama yang tesedia bagi masyarakat.

Informasi permasalahan hendaknya menjadikan perhatian untuk diwaspadai dan dipelajari oleh Pemerintah Daerah, mengingat kejadian rawan pangan dapat berkembang ketingkat yang lebih serius, seperti kelaparan atau gizi buruk jika tidak mendapat penanganan secara cepat dan tepat.

Kerawanan pangan merupakan suatu kondisi ketidakmampuan untuk memperoleh pangan yang cukup dan sesuai untuk hidup sehat dan aktif. Kerawanan pangan ini terjadi apabila setiap individu hanya mampu memenuhi 80 % kebutuhan pangan dan gizi hariannya.

Munculnya kasus rawan pangan dan gizi menunjukkan bahwa ketersediaan bahan pangan dan akses terhadap pangan serta konsumsi pangan yang bergizi dan seimbang masih menjadi masalah bagi masyarakat. Terjadinya rawan pangan dikarenakan laju pertumbuhan produksi pangan tidak sebanding dengan laju pertumbuhan penduduk, serta adanya faktor alam, seperti bencana alam, anomali iklim, rusaknya sumberdaya alam dan lingkungan. Berdasarkan sifatnya kerawanan pangan dibedakan menjadi dua yaitu kerawanan pangan sementara dan kerawanan pangan kronis. Kerawanan pangan sementara terjadi karena individu tidak mampu memperoleh pangan yang cukup pada suatu waktu karena sebab-sebab tertentu yang terjadi secara mendadak seperti bencana alam. Kerawanan pangan khronis terjadi karena individu tidak mampu memperoleh pangan yang cukup dalam jangka waktu yang lama.

Kondisi kerawanan pangan yang lebih parah akan berdampak pada terjadinya kelaparan dimana individu tidak mampu memenuhi 70 % dari kebutuhan pangan dan gizinya berturut-turut selama 2 bulan dan diikuti dengan penurunan berat badan karena masalah daya beli dan atau masalah ketersediaan pangan.

Dampak dari kerawanan pangan dan kekurangan gizi dapat terjadi pada skala makro dan skala mikro. Pada skala mikro dampaknya terhadap semua kelompok umur yaitu para orang tua, orang dewasa, anak-anak, bayi dan para wanita termasuk juga wanita hamil. Berbagai dampak yang ditimbulkan sebagai berikut.

(1) Malnutrisi pada orang tua disebabkan kekurangan makanan dan penurunan kesehatan, menyebabkan kesempatan bekerja & pendapatan menurun dan umur harapan hidup rendah

(2) Penurunan derajat kesehatan dan kemampuan fisik usia produktif. Kesakitan meningkat, absensi meningkat, pertumbuhan & daya tangkap menurun, kesegaran fisik menurun, prestasi oleh raga jelek, interaksi sosial kurang, kriminalitas meningkat

(3) Malnutrisi pada wanita hamil dan meningkatnya angka kematian ibu, perkembangan otak janin dan pertumbuhan terhambat, berat bayi ahir rendah

(4) Penurunan derajad kesehatan pada anak-anak, keterbelakangan mental, penyapihan yang tidak cukup waktu sehingga mudah terkena infeksi serta kekurangan makanan.

(5) Penurunan berat badan bayi, meningkatnya angka kematian, terganggunya perkembangan mental dan meningkatnya resiko terkena penyakit kronis setelah dewasa.

Sedangkan dampak yang terjadi pada skala makro, adalah timbulnya permasalahan pada kehidupan masyarakat, dengan ditandai sulitnya mata pencaharian, daya beli masyarakat menurun tajam yang kemudian dapat menjadi penyebab tingginya tingkat kriminalitas seperti pencurian, perampokan dan lain sebagainya. Akibat yang lebih membahayakan lagi adalah, dimana setiap individu berupaya untuk memperoleh kebutuhan hidup tanpa memperhatikan kepentingan orang lain, sehingga dapat menimbulkan perpecahan di masyarakat.