PROLOG

1. IQ vs EQ

Keberadaan EQ (Kecerdasan Emosi) yang mampu mengalirkan sikap-sikap integritas, komitmen, visi serta kemandirian, saat ini memang mutlak dibutuhkan.

Eksistensi EQ yang dulu belum mampu dilihat oleh kebanyakan orang, kini dinilai patut disejajarkan bahkan berada di atas IQ (Kecerdasan Otak).

Para eksekutif, manajer dan wiraswastawan berhasil menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka menggantungkan diri pada dorongan suara hati sebagai sumber kecerdasan emosi dalam hampir semua keputusan dan interaksi yang diambilnya.

Sistem pendidikan kita selama ini, terlalu menekankan pentingnya nilai akademik atau kecerdasan otak (IQ) saja, jarang dijumpai pendidikan tentang kecerdasan emosi (EQ) yang mengajarkan : intregitas, kejujuran, komitmen, visi, kreativitas, ketahanan mental, kebijaksanaan, keadilan, prinsip kepercayaan, penguasaan diri atau sinergi.

Hasil survey nasional di Amerika Serikat, apa yang diinginkan oleh para pemberi kerja adalah “ketrampilan teknik tidak seberapa penting bila dibandingkan kemampuan adaptasi (belajar) dalam pekerjaan yang bersangkutan”, diantaranya : kemampuan mendengar dan berkomunikasi secara lisan, adaptasi, kreativitas, ketahanan mental terhadap kegagalan, keparcayaan diri, motivasi, kerjasama tim serta keinginan memberi kontribusi terhadap perusahaan.

Kemampuan akademik, nilai rapor, predikat kelulusan pendidikan tinggi tidak bisa menjadi tolok ukur seberapa baik kinerja seseorang dalam pekerjaannya atau seberapa tinggi sukses yang mampu dicapai.

1. EQ vs SQ

Ketakjuban akan EQ (Kecerdasan Emosi) tidak terlalu lama berlangsung, karena muncul pendapat baru bahwa EQ dan IQ hanya berorientasi pada materi semata-mata.

Kecerdasan Spiritual (SQ) merupakan temuan ilmiah yang pertama kali digagas oleh Danah Johar dan Ian Marshall yang didefinisikan sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi manusia.

Dalam ESQ (Emotional and Spiritual Quotient), kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna spiritual terhadap pemikiran, perilaku dan kegiatan, serta mampu menyinergikan IQ, EQ dan SQ secara komprehensif.

2. Teori dan Pelatihan

Melatih kebiasaan kognitif (misal : mengoperasikan komuter, menghitung, menghafal daftar dan sederetan angka) yang berasal dari otak kiri, lebih mudah dibanding pelatihan yang membuat orang menjadi konsisten, memiliki komitmen, berintegritas tinggi, berpikiran terbuka, bersikap adil, bijaksana atau kreatif.

Pada suatu perusahaan, dalam waktu tertentu diadakan suatu pelatihan (training) yang dibagi dalam 2 (dua) kategori, yaitu training pemahaman produk (kognitif) dan training pembangunan motivasi (pembentukan karakter sikap dan mental). Ternyata manfaat pelatihan pembentukan karakter itu walaupun sangat pendek tetapi sangat dibutuhkan dalam mencapai keberhasilan, dibanding pelatihan kognitif.

Ilmu Pembentukan Sikap dan Mental (EQ) apabila hanya sebatas pemahaman dari teori, akan mudah lupa, dan akan berakibat pada kegagalan. Sedangkan apabila pemahanan melalui suatu pelatihan dan kemudian dijadikan suatu kebiasaan, kemudian melekat pada karakter seseorang, akan mudah mencapai keberhasilan.

3. Langkah Pembangunan The ESQ Way 165

Dalam buku ini digagas konsep pemikiran baru yaitu ESQ Model yang merupakan sebuah perangkat spiritual engineering dalam hal pengembangan karakter dan kepribadian berdasarkan nilai-nilai Rukun Iman, Rukun Islam dan Uhsan, yang pada akhirnya akan menghasilkan manusia unggul di sektor emosi dan spiritual, yang mampu mengeksplorasi dan menginternalisasi kekayaan ruhiah, fikriyah dan jasadiah dalam hidupnya.

4. ESQ Model dibandingkan dengan Ilmu Psikologi Kontemporer

TEORI vs PELATIHAN

ILMU PEMBENTUKAN MENTAL & ATTITUDE (EQ)

KEBERHASILAN

SEBATAS PEMAHAMAN

LUPA

PEMAHANAN

PELATIHAN

KEGAGALAN

KEBIASAAN

KARAKTER

Oval: ILMU PEMBENTUKAN MENTAL & ATTITUDE (EQ)

KESALAHAN TERBESAR

ILMU EQ HANYA SEBATAS PEMAHANAN

HANYA MENGANDALKAN KECERDASAN OTAK / IQ

BERHENTI BERLATIH

HARAPAN BERHASIL

MENGABAIKAN KECERDASAN EMOSI DAN SPIRITUAL (ESQ)

KEGAGALAN

BAGIAN 1

PENJERNIHAN EMOSI (ZERO MIND PROCESS)

1.1 KEBEBASAN HATI

Dalam diri seseorang sebenarnya telah dikaruniai oleh Tuhan sebuah jiwa, di mana dengan jiwa tersebut tiap orang bebas memilih sikap. Bereaksi positif atau negatif, bereaksi berhenti atau melanjutkan, bereaksi marah atau sabar, bereaksi reaktif atau proaktif, bereaksi baik atau buruk.

Kita sesungguhnya memiliki kebebasan memilih reaksi terhadap segala sesuatu yang terjadi atas diri kita. Kitalah penanggungjawab utama atas sikap yang kita ambil, bukan lingkungan kita. Diri sendirilah sesungguhnya penentu pilihan tersbut.

1.2 ANGGUKAN UNIVERSAL

Sesungguhnya sifat-sifat mulia Allah SWT. (Asmaul Husna) itu juga ditiupkan ke dalam jiwa manusia. Semua manusia harus menyadari bahwa mereka semua sebenarnya memiliki suara hati yang yang sama, suara hati yang universal. Itulah yang terdapat dalam God Spot, dan itulah yang disebut kesadaran Spiritual.

Ketika kita menyaksikan tayangan yang menonjolkan value/nilai kasih sayang, maka jiwa kita secara universal akan menjawab dan mengakui itu adalah nilai hakiki dan kemudian akan mengangguk ”Benar, ini adalah sifat-Mu. Itulah anggukan universal, yaitu mengiyakan kebenaran suara hati yang sebenarnya berasal dari God Spot.

Akan tetapi ada kalanya tanpa disadari, suara hati tertutup atau buta. Faktor-faktor ’belenggu’ suara hati pada God Spot (spiritual capital) yang tanpa disadari menjadi ’buta’ tersebut adalah :

ad1. PRASANGKA

Tindakan seseorang sangat bergantung oleh alam pikirannya. Setiap orang diberikan kebebasan untuk memilih responnya masing-masing, serta bertanggung jawab penuh atas sikap yang ditimbulkan dari pikirannya sendiri, bukan lingkungan sekitar. Namun lingkungan ikut serta berperan dalam mempengaruhi cara berpikir seseorang.

Apabila lingkungannya pahit, maka seseorang akan menjadi pahit juga, selalu curiga dan berprasangka negatif kepada orang lain, bahkan berubah menjadi sikap ’defensif’ dan tertutup, karena selalu berpikir orang lain adalah musuh.

Sebaliknya, orang yang memiliki suara hati merdeka, akan mampu respon positif di tengah lingkungan paling buruk sekalipun. Ia akan tetap berpikir positif dan selalu berprasangka baik pada orang lain, mendorong dan menciptakan kondisi lingkungan untuk saling percaya, saling mendukung, terbuka dan kooperatif.

Zero Mind I adalah : Hindari selalu berprasangka buruk, upayakan berprasangka baik kepada orang lain.

ad2. PRINSIP-PRINSIP HIDUP

Prinsip-prinsip yang tidak sesuai dengan suara hati akan berakhir dengan kegagalan, baik lahiriah maupun batiniah. Prinsip yang tidak sejalan dengan suara hati atau mengabaikan hati nurani hanya mengakibatkan kesengsaraan bahkan kehancuran.

Nilai-nilai buatan manusia sebenarnya upaya pencarian dan coba-coba manusia untuk menemukan arti hidup yang sesungguhnya. Umumnya manusia hanya memandang suatu tujuan dari sebelah sisi saja, tidak meyeluruh, sehingga akhirnya menciptakan suatu berhala. Dan biasanya merasa paling benar, kurang menyadari bahwa sisi lain dari lingkungan memiliki prinsip yang berbeda dengan dirinya.

Hanya berpirnsip kuat pada sesuatu yang abadilah yang akan mampu membawa manusia ke arah kebahagiaan dan keamanan yang hakiki. Berprinsip dan berpegang pada sesuatu yang lebih labil niscaya akan menghasilkan sesuatu yang labil pula.

Zero Mind II adalah : Berprinsiplah selalu kepada Allah Yang Maha Abadi.

ad3. PENGALAMAN

Pengalaman kehidupan dan lingkungan akan sangat mempengaruhi cara berpikir seseorang, yang pada akhirnya berakibat pada terciptanya sosok manusia bentukan dari lingkungan sosialnya.

Pengalaman-pengalaman hidup serta kejadian-kejadian yang dialami seseorang sangat berperan dalam menciptakan pemikiran dalam dirinya, sebuat paradigma yang melekat erat dalam pikirannya. Seringkali paradigma itu dijadikan sebagai tolok ukur bagi dirinya, juga dalam menilai lingkungan di sekitarnya. Ia akan berfikir berdasarkan bayangan ciptaannya sendiri bukan melihat secara riil dan obyektif.

Suara hatilah yang sebenarnya melindungi diri dari pengaruh pengalaman hidup, juga kejadian-kejadian di sekitar kita. Sikap proaktif hanyalah sebatas metode untuk melihat sesuatu secara berbeda. Merespon suatu keadaan atau kondisi kehidupan secara proaktif tanpa dilandasi dilandasi prinsip nilai yang benar, hanya akan menjebloskan diri kita pada paradigma salah lainnya yang tidak kalah menyasatkan.

Zero Mind III adalah : Bebaskan diri anda dari pengalaman-pengalaman yang membelenggu pikiran, berpikirlah merdeka.

ad4. KEPENTINGAN

Prinsip akan melahirkan prioritas. Orang yang berprinsip pada persaingan antar teman, akan memprioritaskan sesuatu yang bisa menjatuhkan pesaingnya sekaligus mengangkat namanya. Orang yang berprinsip pada kemenangan kelompok akan mementingkan dan mendahulukan kemenangan tim, meski harus mengorbankan kepentingan pribadi.

Orang yang bijak akan mengambil keputusan dengan menimbang semua aspek sebagai satu kesatuan Tauhid atau berdasarkan prinsip ke-Esa-an.

Zero Mind IV adalah : Dengarlah suara hati, peganglah prinsip ‘karena Allah’, berpikirlah melingkar sebelum menentukan kepentingan dan prioritas.

ad5. SUDUT PANDANG

Zero Mind V adalah : Lihatlah semua sudut pandang secara bijaksana berdasarkan semua suara hati yang bersumber dari Asmaul Husna (99 Thinking Hat).

ad6. PEMBANDING

Manusia sering melihat sesuatu berdasarkan perbandingan pengalaman yang telah dialami sebelumnya serta bayangan yang diciptakan sendiri di alam pikirannya.

Paradigma penilaian dalam pikiran manusia begitu mudah berubah hanya dalam hitungan sepersekian detik saja. Bisa dibayangkan betapa lingkungan dengan cepatnya menciptakan dan mengubah pikiran manusi setiap saat, akhirnya akan menjadi korban hasil bentukan lingkungan.

Zero Mind VI adalah : Periksa pikiran anda terlebih dulu sebelum menilai segala sesuatu, jangan melihat sesuatu karena pikiran anda, tetapi lihatlah sesuatu karena apa adanya.

ad7. LITERATUR

Beberapa penulis besar telah membahas secara mendalam “sumber mata air” kecerdasan emosi, yang sebenarnya adalah “mata air” milik Tuhan.Keajaiban berpikir besar yang memperlihatkan bagaimana keberhasilan tidak banyak ditentukan oleh ukuran besar-kecilnya otak seseorang, tetapi banyak ditentukan oleh ukuran gagasan atau pemikiran dari dalam diri.

Suara hati sebenarnya dorongan yang berasal dari sifat=sifat ke-Ilahian menjadi sebuah kebenaran yang sesungguhnya mampu terbuktikan.

Usaha pencarian kebenaran itu sesungguhnya akan berujung pada sebuah kebenaran, walau serentetan ujian akan selalu mengasahnya menuju kehakikian sumber kebenaran.

Bahwasanya buku-buku dan ilmu pengetahuan dari barat yang acapkali dijadikan pegangan/kiblat juga penuhanan ilmu, sesungguhnya sudah tidak pada tempatnya lagi.

Zero Mind VI adalah : Janganlah terbelenggu oleh literatur-litaratur, berpikirlah dengan merdeka, jadilah orang yang berhati “ummi”.

1.3 LAHIRNYA KESADARAN DIRI

Ketujuh ‘belenggu’ di atas, merupakan hal yang sangat mempengaruhi cara berpikir seseorang. Kemampuan melihat sesuatu secara jernih dan obyektif harus didahului oleh kemampuan mengenali faktor-faktor yang mempengaruhi, yaitu dengan mengembalikan manusia pada fitrah hati (God Spot)-nya, sehingga akan mampu melihat dengan mata hati, mampu memilih dengan tepat, memprioritaskan dengan benar. Dan akhirnya keputusan yang diambil menjadi benar.

Zero Mind Process adalah sebuah landasan awal dalam memahami pemikiran tentang ESQ, yang memiliki makna : ‘Dibutuhkan kejernihan hati sebelum mencari dan menemukan kebenaran (yang sesuai kehendak Tuhan)”

1.4 HASIL ZMP

Kemerdekaan berpikir atau menucikan pikiran, akan selalu menghasilkan sesuatu yang baru, hal-hal yang ‘out of the box’, juga karya-karya fantastis. Inilah makna kekuatan ‘ummi’-nya Rasulullah, yang diajarkan melalui baju ihram dalam haji, takbiratul ihram dalam shalat, serta berwudhu sebelum bershalat.

1.5 SUMBER SUARA HATI – GOD SPOT-CORE VALUES

Asmaul Husna (99 sifat Allah SWT) yang terdapat dalam Al Qur’an adalah sumber dari segala suara hati manusia (self conscience), sifat yang sering tiba-tiba muncul dan dirasakan. Bisa berupa larangan, peringatan, atau sebaliknya berupa sebuah keinginan bahkan bimbingan. Dapat berupa penyesalan apabila dorongan itu terlewatkan.

Untuk lebih menyederhanakan, inilah 7 spiritual core values 9 nilai dsar ESQ) yang diambil dari Asmaul Husna yang harus dijunjung tinggi sebagai bentuk pengabdian manusia kepada sifat Allah yang terletak pada pusat orbit (Got Spot) yaitu jujur, tanggung jawab, disiplin, kerjasama, adil, visioner dan peduli.

Ketujuh sifat inilah yang harus dijadikan values atau nilai, di mana akan memberikan meaning atau nilai bagi yang melaksanakannya, disamping nilai-nilai lainnya yang berjumlah 99 sebagai sumber pengabdian.

1.6 SARAN DAN APLIKASI ZERO MIND PROCESS

a. Ketika sebuah masalah atau peluang dihadapan mata, bersegeralah mengenali diri kita terlebih dulu, jangan tergesa mengeluarkan respon.

b. Latihlah kecerdasan spiritual yang telah dimiliki dengan mengenali dan menggunakannya, mulai dari hal yang kecil, dari kebiasaan sehari-hari.

c. Lakukanlah istighfar setiap hari memeriksa kesalahan diri (evaluasi diri), berdoa dengan khusyuk, pergilah haji dan lontarkanlah 7 belenggu jumrah di hati.

BAGIAN DUA

MENTAL BUILDING

Membangun mental dibutuhkan enam prinsip yang berdasarkan rukum iman yakni; star principle, angel principle, prinsip kepemimpinan, prinsip pembelajaran, prinsip masa depan dan prinsip keteraturan.

I. Star Principle

  1. Bijaksana

Segala keputusan yang diambil pada hakikatnya jika dilandasi oleh dan karena Allah, maka akan ditemukan sebuah kebijaksanaan mulia dengan penuh kepercayaan diri. Keterbukaan berpikir merupakan hal esensial dalam pengambilan keputusan. Sebuah proses dinamis dimana diambil dan dipilih diantara beragam alternatif. Keterbukaan dalam berpikir dimana didalamnya terdapat proses memilah-memilih, dan adalah cerminan dari sifat bijaksana atau spiritual wisdom milik-Nya.

  1. Integritas

Bekerja secara bersungguh-sungguh layaknya mengerjakan sebuah tugas suci, dan bekerja dengan hati akan menimbulkan kesuksesan yang luar biasa. Integritas yakni bekerja secara total, sepenuh hati, dan dengan semangat berapi-api.

  1. Rasa Aman

Untuk memberikan rasa aman haruslah berprinsip pada sesuatu yang abadi. Rasa aman berasal dari pengetahuan, bahwa prinsip itu berbeda dengan pusat-pusat lainnya yang didasari kepada orang atau sesuatu yang selalu dan seketika berubah-ubah, namun prinsip yang benar tidaklah berubah. Kita dapat memegang prinsip tersebut. Prinsip tidak bereaksi terhadap apapun.

  1. Situasi Terus Berubah

Dengan berpegang teguh kepada Tuhanlah sesungguhnya dapat menimbulkan rasa tenang dan aman. Rasa tenang dan aman itu sebenarnya akan menjernihkan pikiran, pikiran yang jernih akan mampu mengambil inisiatif-inisiatif yang penting serta berharga sekaligus memberi kesiapan mental untuk menghadapi perubahan-perubahan yang pasti akan terjadi.

  1. Kepercayaan Diri

Seorang yang memiliki kepercayaan diri, di samping mampu untuk mengendalikan serta menjaga keyakinan diri tersebut, akan mampu pula membuat perubahan di lingkungannya. Di samping keahlian teknis, sang katalisator perubahan memerlukan kecakapan emosi lainnya.

  1. Intuisi

Pelajaran dalam hidup tidak hanya diambil dengan menggunakan kecerdasan otak atau ilmu pengetahuan saja, tetapi juga harus menggunakan intuisi atau kecerdasan spiritual.

  1. Sumber Motivasi

Apabila manusia menyadari bahwa dirinya memliki sifat yang diturunkan oleh Allah, maka harus diupayakan untuk dipupuk sehingga menghasilkan kekuatan energi sekaligus motivasi yang dahsyat. Dengan kekuatan dan keberanian berlandaskan iman tersebut, maka akan tercipta kesejatian diri (eksistenmsi) yang bernilai tinggi.

II. Angel Principle

  1. Keteladanan Malaikat

Malaikat merupakan mahluk mulia. Semua tugas yang diberikan oleh Allah SWt dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Seberat apapun pekerjaan yang diberikan akan dilaksanakan dengan sepenuh hati. Prinsipnya tunggal mengabdi kepada Allah SWT dengan kesetiaan tiada tara. Inilah integritas total yang menghasilkan kepercayaan maha tinggi.

  1. Integritas dan Loyalitas

Banyak orang yang menganggap bahwa pelanggaran-pelanggaran etika adalah hal yang biasa dengan alasan tidak akan diketahui oleh atasan. Padahal ini adalah hal yang serius, yakni integritas dan kepercayaan. Hal ini karena prinsip-prinsip hidup yang dianut oleh masing-masing orang. Prinsip bekerja untuk mencari uang serta dinilai atasan. Hasilnya adalah orang-orang yang memiliki karakter kurang, bahkan tidak dapat dipercaya.

  1. Kebiasaan Memberi dan Mengawali

Dengan mengucap bismillah, setiap kali melakukan pekerjaan, berarti kita telah melakukan sesuatu yang tidak akan merugikan orang lain, karena efektifitas bismillah sendiri adalah suatu investasi kepercayaan karena memberikan prinsip yang mendahulukan memberi buakn menunggu atau meminta. Ingatlah aksi min reaksi. Bahwa setiap aksi akan menimbulkan reaksi dan prinsip memberi akan menghasilkan sesuatu, salah satunya adalah energi keprcayaan.

  1. Komitmen

Berjanji adalah sesuatu yang amat penting, begitu pentingnya sampai-sampai mendapatkan perhatian serius dari Tuhan. Sebaliknya, tidak menepati janji adalah suatu langkah yang mematikan kredibilitas seseorang. Oleh karena itu, jangan berjanji sekiranya tidak dapat ditepati. Sekiranya kita berjanji, sesunguhnya kita menarik energi suara hati orang lain besar-besaran, yang dinamakan harapan.

  1. Salam Komitmen dan Saling Percaya

Saat mengucap Assalamu’alaikum wrahmatullahi wabarakatuuhu memberi arti semoga Allah memberikan keselamatan dan rahmat kepada orang tersebut. Berharap sunguh-sungguh agar mendapat keselamatan dan berkah. Assalamu’alaikum adalah seuntai kata bermakna janji persaudaraan, saling percaya dan saling membantu.

  1. Kausalitas Upaya vs Hasil

Hubungan antara kausalitas upaya dan hasil dalam pemahaman barat adalah perbandingan antara dua garis lurus sejajar seperti pada efektifitas Produksi dan Kapasiatas Produksi, yang pada kenyataannya tidak sepenuhnya sebuah hasil bisa diramalkan secara bulat. Dengan pemahaman seperti itu akan mudah menimbulakn rasa frustasi dan tidak bahagia ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan. Dalam dunia Islam, kausalitas ini didasari kepada pencarian ridho Allah (ibadah). Hal ini didasari bahwa masih banyak ilmu Allah yang belum diketahui.

III. Leadership Principle

  1. Paradigma keliru

Selama ini banyak kekeliruan pemahaman tentang kepemimpinan. Pada umumnya orang melihat pemimpin adalah sebuah kedudukan atau sebuah posisi semata. Akibatnya banyak orang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Gaya kepemimpinan tersebut yang melanggar garis demarkasi Allah akan menimbulkan anarkisme dan keganasan hewaniah. Itulah yang terjadi ketika yang memimpin adalah otak bukan hati.

  1. Semua Orang adalah Pemimpin

Semua manusia adalah pemimpin. Tidak ada istilah orang kecil di mata Tuhan, semua sama di mata Tuhan. Dimana setiap manusia adalah khalifah di muka bumi.

  1. Pemimpin adalah Pengaruh

Terlepas dari kedudukan resmi seorang pemimpin, maka perlu disadari bahwa setiap kata yang terucap, setiap langkah yang dibuat sellau menimbulkan pengaruh kepada orang lain. Biasanya orang yang berprinsip kuat nan teguh akan menjadi seorang pemimpin besar, melalui pengaruhnya yang kuat.

  1. Tangga Kepemimpinan
  1. Tangga ke 1 : Pemimpin yang dicintai

Seorang pemimpin harus mampu berhubungan secara baik dengan orang lain. Seorang pemimpin tidak saja menunjukkan prestasi kerjanya, namun ia harus dicintai dan mencintai orang lain.

  1. Tangga ke 2 : Pemimpin yang dipercaya

Integritas akan membuat pemimpin dipercaya, dan kepercayaan ini akan menghasilkan pengikut. Dan kemudian tercipta kelompok yang memiliki kesamaan tujuan. Inilah yuang disebut tangga kedua kepemimpinan, setelah mencapai landasan sebagai pemimpin yang dicintai maka tingkat kedua adalah mencapai kejayaan.

  1. Tangga ke 3 : Pembimbing

Pemimpin yang berhasil bukanlah yang berhasil dari segi luasnyan kekuasannya, namun lebih karena kemampuannya memberikan motivasi dan semangat kepada orang lain. Seorang pemimpin bisa dikatakan gagal apabila tidak memiliki penerus. Pada tingkat inilah loyalitas pengikutnya akan terbentuk. Pada tangga inilah tercipta loyalitas, kader-kader penerus, sekaligus kesetiaan dari pengikutnya.

  1. Tangga ke 4 : Pemimpin yang berkepribadian

Pemimpin tidak akan berhasil apabila ia belum berhasil memimpin dirinya sendiri. Pemimpin harus mampu dan berhasil menjelajah dirinya sendiri, mengenal secara mendalam siapa karakter dirinya. Sbelum memimpin keluar haruslah lebih dahulu memimpin ke dalam.

  1. Tangga ke 5 : Pemimpin abadi

Pemimpin abadi adalah pemimpin yang apabila dicermati kepribadian, ajaran serta nasihatnya mengalir dengan alamiah. Pemimpin jenis ini sangat menjunjung tinggi harkat manusia dan niscaya akan tercium prinsip kebenarannya.

IV. Learning Principle

  1. Bacalah

Proses membaca tidak luput dari suara hati untuk terus mengetahui berbagai hal. Membaca, menelaah, mendalami dan meneliti serta menyampaikan ataupun melakukan Iqra harus dilakukan terhadap ketetapan-ketetapan alam ciptaan Allah SWT.

  1. Mencari kebenaran

Nabi Muhammad sangat tekun dalam mencari kebenaran. Saat belum diangkat menjadi nabi, beliau banyak merenung mencari hakikat kebenaran, sebab segala seusatu yang dilihat oleh manusia di sekitarnya bukanlah kebenaran. Di situ Muhammad mengungkapkan kesadaran batinnya, segala yang disadarinya.

  1. Perintah membaca

Perintah membaca adalah perintah langsung yang diturunkan oleh Allah. Membaca adalah awal mula suatu perintah untuk mengenal dan berpikir tentang eksistensi diri serta Tuhan pencipta.

  1. Berpikirlah kritis

Allah sangat menekankan pentingnya berpikir. Keutamaan manusia berpikir adalah ia mampu menyelamatkan dirinya dan sesamanya dari lembah kehancuran dan mendorong manusia pada kemajuan peradaban.

  1. Evaluasi dan sempurnakan

Keberhasilan suatu bangsa salah satunya adalah karena adanya penyempurnaan yang terus menerus. Evaluasi dan penyempurnaan tidak akan pernah berjalan tanpa dorongan untuk berpikir dan belajar secara tersu menerus, secara disiplin menuju kesempurnaan.

  1. Pengaruh materi bacaan

Bacaan tentang kejadian, perkataan, perbuatan dan sikap orang lain seringkali membekas dalam diri, baik disengaja maupun tidak. Begitu banyak paham, teori dan paradigma yang disebarkan oleh orang melalui buku-buku di pasaran. Maka Al Quran haruslah tetap dipelajari sebagai penyeimbang.

  1. Ilmu pengetahuan vs kebenaran

Ilmu pengetahuan selalu bergerak dari pembenaran ke sanggahan, berdasarkan logika dan buki-bukti nyata. Kalau itu terjadi maka kita harus mampu menilai sesuatu, mengambil keputusan secara obyektif berdasarkan prinsip fitrah yang abadi, bukan semata atas pengaruh dan tuntutan lingkungannya.

  1. Beberapa mukjizat Al Qur’an

Beberapa mukjizat Al Quran yakni adanya keseimbangan yang sangat serasi antara kata-kata yang dipergunakan, seperti keserasian atau jumlah kata yang bertolak belakang.

  1. Al Qur’an sebagai pedoman puncak

Al Quran adalahn pembimbing menuju kebahagiaan, memberikan prinsip dasarr yang dapat dijadikan pegangan untuk mencapai keberhasilan dan kesejahteraan lahir dan batin, dan memberikan manusia kepercayaan diri yang sejati dan mampu memberikan motivasi yang kuat dan prinsip yang teguh.

  1. Kekuatan dan kesempurnaan Al Fatihah

Al Fatihah berarti pembuka yang sempurna bagi segala macam kebaikan dan kebajikan. Al Fatihah juga merupakan penyembuh dari hati dan pikiran yang tidak sehat. Al fatihah adalah pedoman dasar bagi segala kecerdasan hati dan pikiran manusia.

V. Vision Principle

  1. Siapkan Pondasinya

Sebuah kegagalan dan keberhasilan adalah melalui sebuah proses, sehingga perlu disiapkan pondasi bahwa kegagalan dan keberhasilan terjadi juga dissebabkan oleh proses sebab akibat.

  1. Orientasi jangka pendek

Evaluasi harian dan membuat perencanaan dalam jangka pendek atau harian diperlukan agar adanya efek kekuatan dahsyat dari reaksi efek berantai evaluasi dan perencaan tersebut.

  1. Orientasi tujuan dan optimalisasi upaya

Dibutuhkan target-target antara (milestone) yang mesti dicapai terlebih dahulu, serta sebuah kesabarab sebelum mencapai tujuan utama.

  1. Orientasi jangka menengah

Keberhasilan jangka menengah adalah keberhasilan yang kita capai di dunia ini. Perlu adanya sandaran untuk menemukan jati diri kita di dunia

  1. Orientasi jangka panjang, kendali sosial dan ketenangan batin

Orientasi jangka panjang adalah adanay sikap kesadaran akan adanya “hari kemudian”. “Hari Keadilan” sehingga perlu konsistensi perjuangan karena masih ada rantai kehidupan di masa yang akan datang.

  1. Jaminan masa depan

Adalah adanya Jaminan bahwa manusai akan kembali kepada-Nya. Manusia hidup di tiga alam yakni alam dzuriah atau sebelum dunia, kedua alam dunia dimana kita bertugas sebagai khalifah di dunia, dan alam terakhir yaknia alam setelah kematian diaman kita harus mempertanggungjawabkan kehidupan kita di dunia.

  1. Tiada keraguan

Meyakini kebenaran dan pembuktian baik secara historis maupun logika ilmiah akan kebenaran-kebenaran dalam Al Quran.

VI. Well Organized Principle

  1. Mulailah dengan tujuan

Manusia harrus memulai sesuatunya dengan visi atau tujuan. Visi tersebut harus transparan dan jelas. Visi adalah langkah awal menuju prinsip keteraturan. Semua pribadi manusia harus membuat rumusan tentang dirinya, melakukan analisa serta perhitungan untuk memastikan diman adirinya berada.

  1. Semua melalui proses

Manusia sering memahami takdir secara sepotong-sepotong dengan beranggapan bahwa keberhasilan dan kegagalan adalah takdir dari Tuhan. Padahal dalam setiap keberhasilan dan kegagalan ada sebuah proses yang dilewati satu per satu. Banyak dari kita yang mengambil jalan pintas tanpa berpikir langsung mengharapkan hasilnya saja tanpa menghiraukan proses yang harus dijalaninya.

  1. Bebaskan belenggu itu

Belenggu pikiran adalah saat manusia sudah tidak mau mengeavluasi pikiran dan tindakannya karena merasa diri paling suci dan paling baik. Kesadaran diri bahwa Allah lah yang sempurna, akan membuat manusia seperti gelas kosong yang siap diisi dengan ilmu sewaktu-waktu.

  1. Kepastian hukum alam

Dalam mempelajari ilmu sosial perlu ditekankan bahwa ilmu sosialpun perlu didekati dengan ilmu pasti. Sebuah kepastian alam (sunatullah) misalnya dalam interaksi sosial saat orang memukul orang lain pasti akan mendapatkan reaksi. Walaupun tidak membalas namun pasti akan ada reaksi dari korban pemukulan tersebut. Hal ini sesuai dengan hukum fisika (hukum alam) bahwa settiap aksi akan menimbulkan reaksi.

  1. Sistem sinergi Allah

Keteraturan alam misal rotasi bumi dan evolusi bumi pasti memiliki keteraturan yang tunduk pada ketetapan Allah SWT. Takdir Allah memiliki jangkauan yang luas sekali, menyangkut seluruh aspek kehidupan, dan tidak ada sesuatupun yang lepas dari ketentyuan Allah.

  1. Teladani sistem manajemen alam semesta

Alam semesta mengajarkan adanya keteraturan yang baik. Perusahaan yang berhasil pastilah harus memiliki manajeman yang baik. Semua pihak di dalam perusahaan harus menyadari bahwa mereka memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Keteraturan dan keterkaitan antar departemen dan ketaatan terhadap aturan adalah keteladanan dari manajemen alam semesta.

  1. Memelihara sistem

Kesalahan seorang pemimpin adalah sering memberikan toleransi atas kesalahan bawahannya, karena ia lebih suak untuk disenangi orang lain daripada menegakkan peraturan yang ada. Akibatnya ini akan berimbas pada seluruh perusahaan. Awalnya bawahan akan merasa kesalahan tidak akan berdampak pada mereka. Akhirnya kinerja dari perusahaan akan berkurang bahkan sangat mungkin kinerjanya akan terus memburuk.

  1. Jangan melanggar suara hati

Allah telah memberikan isyarat kebenarannya lewat perintah Shalat, ketika sujud maka lafaz da yang diucapkan adalah “Maha Suci Allah yang Maha Tinggi”. Ini artinya untuk mencapai ketinggian harus dimulai dengan hati yang suci dan jernih terlebih dahulu.

BAGIAN III

KETANGGUHAN PRIBADI (PERSONAL STRENGTH)

Ketangguhan pribadi adalah ketika seseorang berada pada posisi telah memiliki prinsip hidup yang kokoh dan jelas, tidak terpengaruh dengan perubahan kondisi lingkungannya. Secara sistematis, ketangguhan pribadi adalah seseorang yang telah memiliki 6 prinsip moral :

  1. Memiliki prinsip dasar tauhid yaitu prinsip bintang, yaitu berprinsip hanya kepada Allah SWT (Spiritual Commitment)
  2. Memiliki Prinsip Kepercayaan, Yaitu Komitmen Seperti Malaikat (Spiritual Integrity)
  3. Memiliki Prinsip Kepemimpinan, dengan meneladani Rosul (Spiritual Leadership)
  4. Selalu Memiliki Prinsip Pembelajaran, berpedoman pada Al Quran (Continuous Improvement)
  5. Memiliki Prinsip Masa Depan (Spiritual Vision)
  6. Memiliki Prinsip Keteraturan, ikhlas pada ketentuan (rules) Allah

Pelaksanaan dalam dimensi fisik (execution) memiliki 5 (lima) pedoman, yaitu :

  1. Memiliki Mission Statement Yang Jelas Yaitu “Dua Kalimat Syahadat” Sebagai Tujuan Hidup Dan Komitmen Kepada Tuhan
  2. Memiliki Sebuah Metode Pembangunan Karakter Melalui Sholat Lima Waktu
  3. Memiliki Kemampuan Pengendalian Diri Yang Dilatih Disimbolkan Dengan Puasa. Selanjutnya potensi dikeluarkannya zakat dan haji.

Bila dianalogikan dengan Teori Molekul, maka God Spot adalah pusat inti atom yang dilindungi dengan 6 rukun iman sebagai kulit atom yang menjaga inti atom agar tetap pada kondisi murni, mengasah dan meningkatkan energi inti atom maka ia dilingkari oleh syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji yang berputar secara teratur. Hasilnya kualitas tingkat medan magnet yang menghasilkan Ketangguhan Pribadi, dan inilah model Long Life Learning.

Analogi ESQ sistem menggambarkan keteraturan sistem seperti Galaksi Bimasakti dengan bulan yang mengilingi bumi, bumi yang mengelilingi matahari. Begitu pla dengan God Spot (fitrah) yang dibungkus dengan iman dan dikeliingi rukun islam dalam prinsip keteraturan yang membentuk sistem keseimbangan tata surya (spiritual kosmos). Gearakan mengelilingi inti yang dilakukan berulang melambangkan konsistensi dari langkah sebuah penyempurnaan dan pengasahan (Continuous Improvement) untuk senantiasa menuju sifat Illahiah dan semua menuju Allah sebagai pusat orbit (Thawaf Spiritual Kosmos).

Rukun Islam yang selalu beredar itu bertujuan :

  1. Memelihara core values atau nilai dasar spiritual yaitu suara Ilahiah yang terdapat pada God Spot sebagai pusat orbit.
  2. Memelihara serta menjaga tujuan dasar (core purposes) yaitu pengabdian manusia kepada Tuhan.

Cara Rukun Islam menjaga Core values :

  1. Core purposes atau tujuan dasar spiritual manusia adalah pengabdian kepada Allah bukan pada dunia, yang telah dilatih dengan syahadat 9 kali dalam sehari semalam. Tujuan dasar ini senantiasa berpusat pada God Spot sebagai center of gravity dan syahadat adalah pembimbing
  2. Core values atau nilai dasar spiritual pada God Spot dilatih dengan pengulangan sifat luhur dengan shalat 5 waktu, sehingga nilai kejujuran, tanggungjawab, disiplin dan kedamaian terinternalisasi melelui pengulabngan dalam geraakn shalat.
  3. Puasa untuk melindungi serta memerangi faktor yang merusak nilai dasar/tujuan spiritual. Pada bulan ramadhan manusia dilatih untuk memerangi hawa nafsu yang menodai sifat Allah sebagai core values
  4. Fitrah manusia berupa suara Illahiah dalam God Spot, harus dikeluarkan dan tidak boleh disimpan dalam hati. Keluarkan potensi spiritual dalam God Spot menjadi amal shaleh dan zakat fitrah sebagai langkah nyata
  5. Kerahkan potensi spiritual dalam God Spot dengan sepenuh hati dan menjadikan langkah nyata seperti haji.

LANGKAH 1. PENETAPAN MISI (MISSION STATEMENT)

  1. Kekuatan sebuah Misi

Misi merupakan motivasi untuk menggerakkan kekuatan dalam mencapai kemajuan.

  1. Membangun misi kehidupan

Misi kehidupan tertinggi adalah pengabdian kepada Allah Yang Maha Kuasa

  1. Membulatkan tekad

Kalimat syahadat merupakan komitemen dari 6 rukun iman, di mana merupakan kekuatan sebuah visi yaitu memulai dengan tujuan akhir dan membulatkan tekad diri. Di sinilah yang harus dilakukan sebelum melangkah yaitu memiliki visi yang jelas dan meneguhkan hati untuk mencapai tjuan yang ditetapkan dengan keyakinan dan optimisme sehingga akan menjadi dorongan yang dahsyat untuk mencapai cita-cita.

  1. Membangun Visi

Untuk dapat mencapai apa yang dicita-citakan harus dapat mengubah diri sendiri terlebih dulu, mengembangkan sifat positif, menentukan tujuan yang akan mengarahkan hidup menjadi lebih baik dan menguatkan keyakinan dalam diri bahwa akan berhasil

  1. Menciptakan wawasan

Setiap manusia yang melakukan tindakan harus didasari oleh wawasan dan pemahaman tentang apa yang dilakukannya sehingga dapat mendatangkan manfaat baginya. Tindakan adalah proses yang harus disadari input dan outputnya.

  1. Transformasi Nilai

Syahadat adalah bentuk transformasi untuk membumikan sifat Allah yang serba mulia sehingga manusia akan mampu menerjemahkan Asmaul Husna dalam keseharian yang akan mampu membangkitkan keyakinan manusia bahwa Asmaul Husna dalam tataran keduniawian tidak mustahil. Sebagai contoh adalah keseharian Rosulullah yang menjadi contoh nyata transformasi nilai spiritual menuju implementasi kehidupan di dunia.

  1. Komitmen Total

Komitmen total kepada Allah SWT berupa ikrar Syahadat yang artinya berjanji untuk mengabdikan hidup hanya untuk Allah. Jadi Berikrar kepada Allah melalui Syahadat artinya berkomitmen total untuk patuh pada 1 ihsan, 6 rukun iman dan 5 rukun Islam, sekaligus penjabaran dari isi syahadat antara manusia dan Allah. Inilah Komitmen The ESQ Way 165.

LANGKAH 2. PEMBANGUNAN KARAKTER (CHARACTER BUILDING)

  1. Relaksasi

Dalam tekanan pekerjaan sehari-hari pikiran seseorang sering terhanyut untuk menyelesaikan berbagai tugas sehingga dapat terlihat bodoh sehingga perlu mengistirahatkan pikiran kita, dengan melakukan shalat untuk mendengar kembali suara hati yangmemberikan bisikan Ilahiah, menyambut dengan kejernihan pikiran sehingga akan peka kembali. Relaksasi melalui shalat akan memberikan ruang berpikir bagi perasaan intuitif untuk menjaga kestabilan emosi dan spiritual seseorang sekaligus menjaga God Spot.

  1. Membangun Kekuatan Afirmasi

Pembangunan Karakter tidaklah cukup dengan dimulai dan diakhiri dengan penetapan misi saja namun dilanjutkan proses yang dilakukan terus menerus. Proses ini merupakan langkah penyelarasan antara nilai dasar dan kenyataan hidup yang dihadapi. Menurut Covey, afirmasi atau penegasan memiliki 5 nialai dasar yaitu pribadi, positif, masa kini, visual, dan emosi.

  1. Meningkatkan Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ)

Kecerdasan Emosi adalah kemampuan untuk merasakan, memahami secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi dan pengaruh manusia. Emosi akan meningkatkan kreativitas, kolaborasi, inisiatif dan transformasi. Untuk meningkatkan kecerdasan emosi dapat dilakukan dengan meluangkan waktu 2 atau menit dan bangun 5 menit lebih awal dari biasanya. Dengan melakukan repetitive magic power akan menjadi solusi energizing yang akan mengisi jiwa sehingga akan mampu mengasah God Spot manusia.

  1. Membangun Pengalaman Positif

Karena sering melihat beberapa kisah dan peristiwa memilukan di sekitar kita akan dpat mempangaruhi jiwa kita sehingga perlu ada penyeimbangan sisi emosional dengan pengalaman positif. Dengan melakukan shalat secara rutin akan menciptakan pengalaman batiniah sekaligus fisik karena aktivitas shalat akan memberikan makna reinforcement. Kegiatan fisik akan lebih mudah diingat sehingga akan menciptakan pengalaman yang tak terlupakan.

  1. Pembangkit dan penyeimbang Energi batiniah

Lingkungan sering tidak sesuai dengan keinginan atau harapan batin sehingga dapat menyebabkan depresi akibat ketidakseimbangan antara harapan dan kenyataan. Perubahan suasana hati sering mendorong seseorang mengambil tindakan untuk mengubahnya. Energi emosi dapat menjadi penyelaras terhadap lingkungan luarnya yang akan mendorong bagi kemajuan mereka. Shalat merupakan salah satu cara untuk menampung dorongan tersebut dan dapat untuk menambah energi baru. Inilah letak keseimbangan hidup sesungguhnya, keseimbangan pikiran, hati, dan tindakan. Keseimbangan ini seperti garis yang mengarah ke atas, kegiatan shalat akan meningkatkan energi dari waktu ke wakti (God Spot Empowerment).

  1. Pengasahan Prinsip

Shalat merupakan pelatihan untuk menjaga kualitas kejernihan emosi dan spiritual seseorang. Dalam shalat core purposes ditanam didalamnya sehingga terbangun kejelasan visi dan misi yang membuat manusia mantap dalam menjalani aktivitas hidupnya. Sehingga seseorang akan hanya berpegang teguh pada nilai Robbani, namun core values ini sangat fluktuatif karenanya diperlukan values reinforcement. Dalam ESQ, Islam menjawab melalui character building yang sangat efektif melalui shalat.

  1. Pelatihan Ketangguhan Sosial (Social Strength)

Dalam kerja Tim menuntut tingkat kecerdasan sosial yang tinggi serta keterampilan dalam membaca dan mengelola hubungan. Shalat jamaah merupakan contoh pelatihan sekaligus simbol kondisi social strength. Kesatuan dan kesamaan gerakan dalam shalat berjamaah merupakan sinergi yang baik, ada kesamaan visi, saling mengisi, keteraturan organisasi, kesamaan persepsi dan prinsip, saling mendukung, saling mengingatkan prinsip, pertemuan rutin, dan demokrasi.

  1. Adzan

Adzan yang dikumandangkan sakan mampu menularkan emosi dari isi ucapan adzan itu sendiri dan akan mampu membangkitkan semangat untuk meraih kemenangan sehingga muadzin harus memahami isi adzan sehingga adzan memiliki jiwa.

  1. Garis Orbit dan makna Kiblat

Karakter pribadi harus beredar pada garis orbit yang mengeliingi titik Tuhan. Karakter yang harus selalu sesuai dengan God Spot dan dengan 6 azas rukun iman, yang dikelilingi 5 kali sehari semalam.

LANGKAH 3. PENGENDALIAN DIRI (SELF CONTROLLING)

a. Meraih Kemerdekaan Sejati

Tujuan akhir dari pengendalian diri yang dilatih dan dilambangkan dengan puasa adalah mencapai keberhasilan bukan pelarian dari kenyatan hidup. Tujuan puasa adalah menahan diri dalam arti luas yaitu dari ego duniawi yang tidak terkendali dan keluar dari garis orbit dan nafsu batiniah yang tidak seimbang.

Secara umum, tujuan berpuasa adalah mencapai kemerdekaan sejati, bebas dari belenggu yang mengungkung God Spot atau Spiritual capital seseorang. Puasa merupakan metode pelatihan yang rutin dan sistematis untuk menjaga fitrah manusia sehingga memiliki kesadaran diri dan akan menghasilkan akhlakul karimah.

b. Memelihara God Spot

Puasa harus didahului dengan niat. Puasa merupakan bentuk pelatihan yang telah diberikan Allah untuk membangun kecerdasan emosi. Bila seseorang telah mampu memaknai hidup yang sesungguhnya maka dia akan sadar bahwa tujuan puasa adalah pembebasan diri dari belenggu dan memelihara fitrah dalam rangka memakmurkan bumi di jalan Allah.

Seseorang yang mampu menghentikan pengabdian dirinya akan menjadi pribadi yang hebat dan akan meningkatkan potensi dirinya untuk menghasilkan yang terbaik dengan standard yang tinggi dan tidak berhenti pada batasan duniawi.

c. Mengendalikan Suasana Hati

Salah satu manfaat puasa adalah bentuk pelatihan untuk mengendalikan suasana hati. Puasa merupakan pelatihan untuk menolak pikiran yang negatif agar dapat berpikir jernih dan produktif. Prinsip tetap tenang saat menghadapi provokasi atau tekanan berlaku untuk siapapun.

Sebuah studi terhadap sejumlah manajer di lapangan bahwa yang dinilai terbaik sebagai komunikator adalah orang yang mempunyai sikap tenag, mampu mengesampingkan dorongan yang timbul dari perasaan mereka sendiri, dan mampu memfokuskan diri sepenuhnya pada masalah yang dihadapi. Hasilnya, para manajer mampu memanfaatkan waktu yang tersedia untuk menghimpun informasi penting dan dapat memberikan umpan balik yang konstruktif.

d. Meningkatkan kecakapan emosi secara fisiologis

Pengendalian diri pada saat berpuasa ini penting dan dapat meningkatkan kemampuan dalam mengendalikan emosi. Orang yang mampu mengendalikan emosi akan dapat lebih mampu berkonsentrasi, cerdas dan lebih luwes dalam menghadapi tekanan.

e. Pengendalian prinsip

Puasa dapat juga berfungsi sebagai pengendali pikiran dan hati agar tetap pada garis orbit, berada pada jalur fitrah.

Pengendalian dalam rangka menjaga agar pikiran selalu sejalan dengan rukun iman :

Pengendalian Star Principle (Iman kepada Allah)

Pemahaman bahwa Allah itu Esa, Bijaksana dan adil harus diperhatikan sehingga pemahaman sifat Allah menjadi kesatuan yang tidak dapat dipisahkan oleh nafsu untuk kepentingan duniawi.

Pengendalian Angel principle (Kepercayaan)

Memeperoleh kepercayaan merupakan dorongan dan keinginan setiap orang. Tetapi memperoleh kepercayaan tanpa didasari nilai kebenaran akan mengakibatkan kegagalan. Inilah nafsu yang harus dikendalikan. Kunci utama adalah ketulusan kepada Allah bukan kepada manusia.

Pengendalian Leadership Principle (Kepemimpinan)

Puasa merupakan kemampuan untuk menahan serta mengendalikan egoisme diri untuk tidak berkeinginan menjadi seorang pemimpin yang mengatasnamakan orang lain, dengan tujuan pribadi serta keuntungan tertentu. Orang yang mampu menahan diri akan ditunjuk oleh masyarakat karena kemampuanyya untuk mengendalikan diri dan bertindak rasional sesuai kehendak suara hati yang fitrah, adil dan bijaksana

Pengendalian Learning Principle (Prinsip Pembelajaran)

Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa didasari pemahaman serta keyakinan bahwa sumber iptek adalah Allah justru akan membuat banyak kerusakan di muka bumi.

Pengendalian Vision principle (Visi)

Visi terbukti telah menunjukkan kekuatannya dengan keberhasilan perusahaan besar, namun visi yang berhenti pada keberhasilan fisik saja akan mengakibatkan ketimpangan sosial, kepincangan batin, dan perasaan yang tidak tenteram. Visi tanpa berpegang pada Allah akan menihilkan suatu sistem kendali sosial. Orang yang berpuasa akan mampu mengendalikan visinya karena berlandaskan pikiran yang kukuh.

Pengendalian Well Organized principle (keteraturan)

Keteraturan adalah dasar dari manajemen. Manajemen yang baik menurut islam adalah keseimbangan intelektual yang diselaraskan secara bersamaan dengan isi dan suara hati manusia sehingga menghasilkan pola keteraturan dan manajemen yang berkelanjutan. Dalam hal ini tantangannya adalah kesabaran, ketika harus menghadapi tujuan jangka pendek dan orientasi jangka panjang yang didasari iman dan keyakinan.

f. Pelihara tata garis Orbit

Apabila salah satu planet dlam susunan tata surya keluar dari orbit maka akan mengakibatkan hancurnya seluruh tatanan alam semesta secara masal, begitu juga dengan ESQ Model, apabila terjadi goncangan keseimbangan karena salah satu langkah keluar dari garis orbit maka goncang keseimbangn jiwa dan tatanan sosialnya. Pengendalian diri adalah suatu metode Ilahiah untuk menjamin agar seluruh langkah selalu beredar pada titik sentral God Spot secara harmonis yaitu dengan memertahankan core values sebagai pusat orbit dan core purposes sebagai tujuan dan mencegah faktor internal dan eksternal yang dapat merusak kedua nilai inti dengan tujuan hanya pengabdian kepada Allah.

Ø SARAN DAN APLIKASI PERSONAL STRENGTH

1. Ketika menucapkan 2 kalimat syahadat ucapkan perlahan agar memperoleh makna dari ucapan trsebut yaitu untuk :

Menetapkan misi kehidupan

Membulatkan tekad bersujud kepada allah

Menyerap dan mengingat sifat allah

Menerapkan sifat tersebut dalam perilaku keseharian

Menanamkan komitmen kepada allah

Berjanji kepada Allah mematuhi syahadat

2. Lakukan shalat 5 waktu dengan disiplin dan khusyuk

3. Lakukan puasa wajib di bulan Ramadahan dan puasa sunnah untuk meningkatkan kemampuan anda dalam mengendalikan diri

4. Tegakkan 7 core values ESQ (nilai dasar) shalat ke dalam aplikasi keseharian sehingga menjadi karakter pribadi :

Jujur

Tanggungjawab

Disiplin

Kerjasama

Adil

Visioner

Peduli

5. Lindungi ketujuh nilai dasar ESQ melalui puasa terhadap faktor internal dan eksternal yang dapat merusaknya

6. Pertahankan tujuan dasar (core purpose) yaitu pengabdian hanya kepada Allah dari kepentingan – kepentingan (vested interest).


BAB IV

KETANGGUHAN SOSIAL (SOCIAL STRENGTH)

1. Memberdayakan potensi spiritual (core values)

Memanfaatkan semua sumberdaya merupakan teknik dasar untuk melakukan sinergi dalam rangka mencapai sebuah tujuan secara efektif.

Lingkungan sosial : Sumberdaya utama pendukung keberhasilan

Zakat (Strategic collaboration)

Zakat adalah langkah nyata untuk mengeluarkan potensi spiritual (fitrah) menjadi sebuah langkah konkret guna membangun sebuah sinergi yang kuat yaitu berlandaskan sikap empati, kepercayaan, kooperatif, keterbukaan serta kredibilitas.

Dalam aspek hubungan social banyak persoalan yang ditemui karena factor “lebih” dan “kurang” dari orang-orang di sekitar kita, dimana kita dapat mengisi ruang kekurangan tersebut dengan memberi (zakat)

Prinsip zakat : mengeluarkan / memberi kepada lingkungan sosial dalam rangka membentuk sinergi yang kuat.

Zakat, sebagai langkah pembuka atau memulai dengan memberi, secara konkret mampu menghasilkan nilai-nilai kepercayaan kemudian mengantarkan sebuah investasi keterbukaan bagi kedua belah pihak. Zakat menghasilkan sikap-sikap kompromi masing-masing pihak mampu merasakan (empati) terhadap apa yang diinginkan oleh pihak lain.

Keberhasilan dalam membangun investasi kepercayaan akan membuahkan kredibilitas, keterbukaan, kompromi, efektivitas dan komitmen à memudahkan merangkai rantai-rantai sinergi dan aliansi sosial.

Untuk mendapatkan hasil optimal kunci utama dalam zakat adalah ketulusan (ikhlas)

Prinsip zakat dalam arti luas merupakan dasar sinergi kolaborasi yang sukses. Investasi kredibilitas, membangun landasan kooperatif, empati, investasi komitmen, sifat terbuka dan kompromi merupakan prinsip dasar keberhasilan aliansi.

2. Pentingnya Sinergi

Pentingnya kolaborasi (berkelompok) dikemukakan oleh banyak ahli, salah satunya pendapat ahli dari Havard Howard Gardner : “Tidak ada keraguan bahwa pikiran kelompok bisa jauh lebih cerdas”.

Dengan berkelompok serta berinteraksi dengan baik antar anggota akan lebih membawa keberhasilan dibanding apabila hanya mengandalkan kemampuan pribadi.

Zakat merupakan suatu metode pembelajaran agar seseorang memiliki kesadaran diri sebagai salah satu bagian dari lingkungan sosial / tanggung jawab sosial yang selalu melakukan kolaborasi dengan lingkungannya.

3. Makna Zakat

3.1. Zakat dalam Prinsip Bintang / Prinsip Satu

Kunci utama menjalin hubungan social dengan memahami orang lain (empati) adalah dengan memahami diri kita sendiri. Zakat disini adalah mengetahui, memahami apa yang dibutuhkan orang lain, berusaha untuk masuk ke dalam hati dan perasaan mereka sekaligus memberi bantuan agar mereka dapat memenuhi kebutuhannya —-> kharisma seseorang terbentuk

Pemahaman tentang sifat-sifat Allah sangat berkaitan dengan kemampuan memahami dan mengerti motivasi orang lain serta meningkatkan kecerdasan social diri kita —- > Alat utama untuk melaksanakan hubungan social.

3.2. Zakat dalam Prinsip Kepercayaan / Prinsip Dua

Kepercayaan adalah modal dasar suatu sinergi. Makna zakat disini adalah bagaimana kita menunjukkan karakter kita, meneladani sifat-sifat Allah yang maha pengasih dan penyayang sebagai prinsip hidup

“Persepsi yang positif dalam memandang diri seseorang sangat menentukan bagaimana cara memperlakukan atau bethubungan dengan mereka” (John C Maxwell)

Percayalah kepada orang lain, dan mereka akan tulus kepada anda . Perlakukan mereka seperti orang besar dan mereka akan memerlihatkan dirinya sebagai orang besar” (Raplh Waldo Emerson)

Makna zakat juga seperti melakukan koreksi terhadap diri sendiri, membangun sinergi berdasarkan kepercayaan yang dibangun melalui integritas tulus à pemberian kepercayaan kepada orang lain : Keinginan untuk memohon ampunan, tidak menyalahkan orang lain serta rela berkorban untuk menjaga kepercayaan

3.3. Zakat dalam Prinsip Kepemimpinan / Prinsip Tiga

Merupakan pendelegasian untuk memberi wewenang kepada orang lain dalam mengelola sarana-prasarana, membimbing orang lain melalui ilmu yang bermanfaat serta menunjuk orang lain secara resmi untuk menjdi pemimpin dalam berbagai tingkatan.

Pendelegasian akan membuat sinergi lebih afaktif dan produktif secara jangka panjang dan berkesinambungan

Zakat dalam prinsip kepemimpinan adalah mendelegasikan hak serta wewenang untuk mengalola sarana-prasarana yang dimiliki dengan berprinsip pada yang maha kuasa serta membimbing tugas penlegasian tersebut melalui ilmu yang telah kita kuasai.

3.4. Zakat dalam Prinsip Pembelajaran / Prinsip Empat

Hasil dari prinsip pembelajaran adalah ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan adalah dasar dari setiap keberhasilan.

Zakat disini dalam arti memanfaatkan atau mempraktikkan ilmu pengetahuan yang diperoleh untuk kemakmuran à selalu memberikan ilmu pengetahuan yang telah dimiliki kepada orang lain à Membantu membangkitkan motivasi orang lain.

3.5. Zakat dalam Prinsip Masa Depan / Prinsip Lima

Empat tingkatan kelompok orang menurut visinya (John C Maxwell) :

a. Beberapa orang yang tidak memiliki visi (pengembara)

b. Beberapa orang yang memiliki visi tetapi tidak mengejarnya (pengikut)

c. Beberapa orang yang memiliki visi dan mengejarnya (peraih prestasi)

d. Beberapa orang yang memiliki visi, mengejarnya dan membantu orang lain melihatnya (pemimpin)

Zakat Visi adalah membantu memberikan keyakinan akan visi kepada orang lain, dan yang terpenting adalah membentu dalam pencapaian visi mereka.

3.6. Zakat dalam Prinsip Keteraturan / Prinsip Enam

Kerjasama tim (team work) adalah upaya penjcapaian yang jauh lebih efektif dan efisien disbanding bekerja secara perseorangan.

Prinsip zakat disini adalah Pemilik modal menzakatkan modalnya kepada orang yang memiliki skill dan network, pemilik skill menzakatkan skillnya kepada pemilik modal atau network, begitu juga pemilik network menzakatkan kepada pemilik skill dan pemilik modal à sehingga tercipta sinergi pencapaian tujuan bersama berasaskan zakat sebagai dasar kepercayaan.

BAB V

APLIKASI TOTAL (TOTAL ACTION)

Haji merupakan lambang dari puncak Ketangguhan Pribadi dan puncak Ketangguhan Sosial.

Secara sosial Haji merupakan puncak kolaborasi tertinggi

Secara prinsip haji merupakan langkah yang berpusat pada Allah Yang Maha Esa dimana

segala tujuan tidak lagi berprinsip pada yang lain à Ketangguhan jiwa yang luar biasa

1. Langkah Zero Mind Process – IHRAM

Niat merupakan awal dari ibadah haji :

Niat Utama Menuju orbit Allah

Niat Pendukung : membangun kejernihan hati yang satu, meningkatkan 6 prinsip keimanan (Rukun Iman), serta menguatkan 5 langkah proses (5 Rukun Islam)

Akan menciptakan pribadi-pribadi yang tangguh, matang, memiliki ketangguhan social yang islami.

Dengan pakaian ihram akan mendorong suara hati dalam kondisi kemerdekaan sejati, dan siap untuk melangkah pasti yang dilandasi hati yang jernih, komitmen kuat dan integritas tinggi melakukan perjuangan terbaik sebagai khalifah di muka bumi.

2. Kenali Diri, Evaluasi dan Visualisasi – WUQUF

a. Evaluasi

WUQUF berarti berhenti (secara fisik) namun pikiran bergerak ke dalam diri (inner journey). Dengan metode repetitive magic power (dzikir dalam shalat) akan melatih penguatan suara hati à Kemampuan mendengar suara hati, membimbing ke arah kebenaran, kemajuan, fisik dan mental serta keberhasilan dunia akhirat.

b. Visualisasi

Setelah evaluasi dilaksanakan visualisasi berlandaskan pada hati yang telah dibersihkan dibangun di atas landasan spiritual yang kokoh. Wawasan ini memberikan pemahaman menyeluruh tentang makna haji yang akan memberikan landasan pengetahuan tentang arti kehidupan yang begitu luhur sebagai abdi Allah.

3. Hadapi Tantangan – LONTAR JUMRAH

Musuh terberat adalah dalam diri manusia sendiri : nafsu lahiriah, dorongan suara hati manusiawi, dorongan mengabdi selain Allah dalam arti duniawi.

Makna melontar jumrah merupakan suatu strategi untuk mempelajari pola musuh menyerang, sekaligus melakukan serangan balik secara aktif, dan musuh tersebut adalah musuh yang bersemayam dalam diri kita.

4. Pengasahan Komitmen dan Integritas – THAWAF

Thawaf / Rukun Haji akan menciptakan suatu kesadaran diri yang akan menjadi pusat prinsip yang membimbing kita untuk tetap berpegang hanya kepada Allah.

Thawaf akan menciptakan pula nilai prinsip hidup sekaligus mengangkat ke permukaan anugerah spiritual yang berrada di dasar hati.

5. Pengasahan AQ (Adversity Quotient) – SA’I

Merupakan lambang suatu ketetapan hati (persistensi) atau upaya tidak mengenal lelah

Kuat menghadapi berbagai rintangan. Kewajiban manusia adalah berusaha tiada kenal putus asa à Allah akan memberikan air zam-zam sebagai symbol rejeki, keselamatan dan kemenangan

6. Sinergi – JAMAAH HAJI

Ibadah haji dilakukan secara bersama-sama melambangkan suatu sinergi pada tingkat internasional. Sinergi haji mengajarkan manusia untuk selalu berpandangan positif, bersikap jujur, terbuka dan saling percaya kepada orang lain.

E P I L O G

Ihsan, Rukun Islam dan Rukun Iman bukan hanya ajaran ritual semata tetapi memiliki makna yang penting dalam pembangunan kecerdasan emoasi dan spriritual (ESQ). Rukum Islam dan Rukun Iman adalah metode pembangunan emotional intelligence (EQ) yang didasari hubungan mannusia dengan Tuhannya (EQ) sehingga dinamakan Emotional and Spiritual Quotient (ESQ).

Rukun Islam sebagai tuntunan beragama juga merupakan metode pelatihan ESQ yang telah dipahami dalam Rukun Imam, mulai dari syahadat yang berfungsi sebagai penetapan misi, shalat sebagai pembangunan karakter, puasa sebagai pengendalian diri serta zakat dan haji yang berfungsi untuk meningkatkan kecerdasan social.

Tata urutan dalam Rukun Iman hingga ke Rukun Islam disusun berdasarkan suatu tingkatan anak tangga yang teratur dan sitematis, memiliki keterkaitan yang erat dan kuat dan satu kesatuan yang esa, dimulai dari prinsip landasan, prinsip kepercayaan, prinsip kepemimpinan, prinsip pembelajaran, prinsip masa depan hingga ke prinsip keteraturan.

Kunci dasar Ihsan, Rukun Islam dan Rukun Iman adalah Nama-nama Allah. Terciptanya alam semesta beserta isinya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, hukum-huklum fisika dan social, serta semua peristiwa yang terjadi hanya karena kehendak Allah.